Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

" Ecole de Football Opposant "




"Ulla pliss yaa. Stop gerak napa? Dasar !" cowok berjambul yang sedari tadi di samping Ulla capek melihat cewek yang sudah sebulan 'menjadi miliknya' terus terusan berseliweran di depannya berkata dengan agak kasar pada cewek yang dipanggil Ulla
"Yaaah Aji kamu tau kan aku gak bisa diem. Jadi percuma ngelarang aku untuk diem. Handini mana siiih ? Laama yaa?" jawab Ulla -cewek yang dimaksud- sambil melihat jam di pergelangan tangan nya
Aji hanya memandang Ullla dengan ekspresi campur aduk. Ia melihat ceweknya ini dengan tatapan aneh dan geli. Ceweknya satu ini emang dari lahirnya gak bisa diem dan paling rajin buat menjahili teman-temannya. Namun itulah uniknya Ulla, dia gak suka jadi orang lain dan paling bangga kalau dia menunjukkkan "inilah-aku" kepada publik dengan cara yaaah yang tadi sudah tersebutkan. Usil stadium parah.
"Mereka pasti dateng kok tenang aja. Minum dulu gih" kata Aji menawarkan agar Ulla diem di tempatnya
"Huh dasar Indonesia jam karet siih. Lama banget. Haaaah seger juga yaa" ujar Ulla sambil menyeruput minumannya
"Astagaaa" Ulla kaget handphone nya tiba-tiba saja berbunyi
Handini calling...
"Allo ?... yeah ?... aku ada di sini... daritadi juga... vous di mana aja eneng?...yaampun... pardon me...berisik pisan euy di sana, kau bilang apa barusan...macet? di mana ada macet jam 9-an gini?..."
Aji hanya tersenyum mendengarkan Ulla yang sedang menerima telepon dari Handini. Masalahnya Ulla kalau berbicara, bukan hanya mulut nya yang 'berekspresi' tapi juga raut wajah, gerakan tangan, dan posisi badannya. Kini dengan dahi berkerut dan tangan yang bersedekap Ulla terus melanjutkan pembicaraanya dengan temannya tersebut.
"Okee ngebut aja deh biar cepet...hehehe gak deh aku ikhlas aja kalau elu benjut-benjut gitu.. Hahaha kidding nih aku. Okee aku tunggu yaaa cepeeeeeeetan kasihan Aji nih...Siap...Daaaah" Klik. Ulla menutup flap handphone nya
"Mereka masih di sekitar terminal nih macet tuh katanya. Masa malem-malem gini macet yaa. Padahal kan di sana kawasan sepi penduduk masa macet. Aiiih tapi aku tadi juga denger klakson bunyi terus yaa waktu aku telepon..." Ulla terus saja mengoceh
Ini dia satu lagi yang Aji suka dari ceweknya.
Cerewet nya juga udah stadium atas dan gak bisa disembuhin kayaknya. Tapi dengan cerewetnya itulah Aji bisa mengenalnya. Dan kangen ataupun rindu yang ada di hatinya hanya karena tidak mendengar celotehan nya. Coba saja ...
"Ajiaa bim ? haloo kamu masih sadar kan. Halo ? kamu bisa denger in aku tho"  jerit Ulla di telinga Aji karena sedari tadi ia terus berceloteh dan Aji  hanya memandangnya dengan tatapan melamun.
"Eeh iyaa iya. Kenapa sayaang ? Maaf yaa tadi aku cuman mikir pertandinganku aja" Ujar Aji sambil memohon maaf pada Ulla, karena ia melihat wajah Ulla yang merengut
"Huh terus aja pikirin pertandinganmu. Aku terus kan yang kena getah dicuekin sama kamu. Ada apa lagi sama tim-mu itu, heh ?" ujar Ulla kesal
"Yatuhan sayaaang. Aku cuman mikir yaa aku besok harus latihan buat tanding dan waktunya tabrakan sama jadwal bimbel"
"Terus? Ngapain curhat ke aku?" Ulla tetap aja merengut
"Okee baiklah. Aku minta maaf karena tadi udah nyuekin kamu. Maaf yaa bidadari ku yang gak bisa diem" ujar Aji sambil mencubit pipi Ulla
"Iyaa deh. Udah lepasin tangan mu dari pipiku yang gak-boleh-sembarangan dipegang"
Bikin orang tambah kesal aja nih pocong yaa, batin Ulla
"Jangan marah lagi yaa kuntilanak ku. Aku janji deh gak nyuekin lagi. Sungguh" janji Aji
"Ya. Tapi kamu bilang besok ada latihan kan ?" tanya Ulla untuk meyakinkan
"Iya nih. Mana besok gak boleh telat pisan, padahaaa..." kata-kata Aji terpotong dengan kalimat Ulla
"Stop dulu deh gak bisa kah ? perhatiin tuh sekolahmu yang kamu telantarin. Aku ngerti cita-citamu jadi pemain TIM-NAS- IN-DO-NE-SIA dan bukan berarti kamu malah menomorsatukan itu sedangkan sekolahmu ditinggal. Ntar kalau udah sekolah yang ditinggal, giliran aku deh yang dicampakkan. Huh" Ulla memulai khotbah nya lagi dan mengakhirinya dengan ekspresi kecewa
"Hehehe enggak bakalan kok Ulla. Denger yaa ntar kalau udah musim ujian aku bakal beneran break kok..." kalimat Aji terpotong lagi
"Pliss sekarang udah musim ujian.3bulan lagi kita mau ujian kan?" ujar Ulla
"Emang iyaa ? waah aku gak nyadar tuh" kata Aji sambil menengadah tanda berpikir
"Lha kan. Itu aja udah lupa tho"
"Iyaa deh aku tahu. Tapi sekarang aku puas-puas in dulu buat tanding sana-sini." bantah Aji membela dirinya sendiri.
"Halaah kamu itu kalau tanding gak bakal puas juga. Rakus" ejek Ulla
"Toloooong aku. Yaampun kayaknya kamu udah negur aku tentang ini bolak balik yaa?" sambil memandang gelasnya yang sudah kosong Aji menerawang gelas itu seolah gelas tersebut tembus pandang
"Dan jawabanmu selalu itu, pocong. Aku capek ngomongin ini terus yaa kamu selalu aja membantah tho ? engga usah dibahas kalau ntar kamu kena getahnya yaah biarin dan jangan pernah salahkan aku ataupun menyangkut kan diriku jika ada efek sampingnyo"
"Iyaa. Eeh itu Handini bukan? Itu sama Andi lagi turun sepeda" ujar Aji sambil mengalihkan pembicaraan. Sementara Ulla menjemput teman-temannya, Aji hanya melamun lagi
Ulla emang bener. Tapi kalau aku gak bisa terus latihan dan coach tidak memandangku baik...bagaimana aku bisa mendapat cita-citaku itu. Aku sayaang kamu Ulla dan juga Sepak Bola adalah hidupku, batin Aji
"Haii Aji. Tumben diem nih gak ikut usrek -bertingkah- kayak cewekmu ini e? Sungguhan deh elu beneran butuh obat buat kekasih tercintamu ini. Makin hari makin usrek aja. Hahaha" itu suara Andi, temannya yang membonceng Handini dan mengantarnya bertemu Ulla dan Aji sendiri. Aji hanya tersenyum saja menanggapi kata-kata Andi tadi.
Kalau dilihat sekitar mereka, banyak banget yang dateng di kafe ini saat malam minggu. Engga heran juga. Mereka berempat pun larut dalam obrolan yang mengalir sementara jalanan semakin padat walau jam sudah menunjukkan pukul 20.30 setempat.
-UB-
"Sudah berapa kalinya kamu tidak mengerjakan tugas saya. Dan ini sudah batas kesabarann saya. Kalau kamu..." hanya karena tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Tutik -pengajar PKn- kepada Aji, akhirnya waktu pelajaran terbuang karena panjangnya kalimat nasihat dari sang guru. Dari apa yang dikatakan oleh Bu Tutik dia dan teman-temannya pun mengetahui jika tidak membawa buku cetak pelajaran PKn adalah satu bentuk tidak menghormati perjuangan para penjajah. Tidak puas hanya memberi khotbah, Bu Tutik mengusir Aji keluar dari kelas dan mengancam tidak mengijinkannya masuk kelas dan mengikuti pelajarannya sebelum semua tugas sebelum- sebelum- sebelum- sebelum- sebelum-nya  yang beliau pernah berikan.
Nasib sial banget hari ini. Aku ke mana nih sekarang ? ke lapangan aja aah, Ulla kan jam olahraga sekarang, ucap Aji dibain
Setibanya di lapangan dia melihat Ullla dikelilingi banyak cowok, bukan banyak tapi semua teman cowoknya ada di sekitar Ulla dan posisi Ulla sudah pasti sebagai titik pusat dalam lingkaran. Tapi lihat itu ! Seseorang menjambak rabutnya dan dengan ringan mahkota wanita milik Ulla tergerai bebas. Itu pertama nya ia melihat Ulla dalam pose sedemikian rupa. Manis juga, ceplosnya pelan
"Kembaliin kucir ku, Rista. Yaampun kalian jail juga sama aku yaa". Tapi saat Ulla hendak keluar dari 'lingkaran cowok-cowok' itu, mereka menahannya. Ulla pun menjerit sekencang-kencangnya karena tidak diperbolehkan masuk sedangkan Aji hanya memandangnya dari jauh.
"Gak enak kan kalau dijahilin ? Naah senjata makan tuan deh, kunti" Aji berbicara sendiri dengan bergumam.
-UB-
Sekarang musim tim junior saling berebut  meraih yang pertama dan termasuk tim yang Aji menjadi kiper di dalamnya.
"Kamu dateng kan, Ulla? Dateng yaa" suara penuh paksa itulah yang dikeluarkan oleh Aji kepada ceweknya yang sedang mengemil jajan
"Hm ? daftang kef manfa tfho?" ujar Ulla yang masih mengunyah dengan asiknya.
"Telen dulu deh makananmu baru ngomong" saran Aji pada Ulla yang kesulitan mengunyah.
"Okee. Aku harus datang ke mana tho ?" ulang Ulla pada kalimatnya tadi
"Yaalah. Aku kan mau tanding besok jam 4 sore di stadion kota. Aku udah beliin tiket buat kamu sama Handini. Jadi gimana ?"
"Hm. Besok aku kan ada les tho. Kamu lupa kah ? dan jam segitu pasti aku belum pulang" bantah Ulla
"Kamu gak bisa dateng dong ? padahal besok kan tanggal 10. Dateng yaa, bolos les sekaaaali aja" Aji masih pantang mundur untuk memaksa ceweknya untuk datang
"Sekali katamu? Aku udah bolak-balik bolos les buat nemenin kamu tanding yaa. Dan masih kamu anggap sekali ? Keterlaluan"
Aji mengerti ia sudah sering memaksa Ulla untuk bolos demi menyaksikan pertandingan bola nya. Tapi kali ini ia yakin adalah yang terakhir, inilah saat yang harus benar-benar ia manfaatkan. Manager Timnas akan datang di pertandingan kali ini dan coach nya sendiri yang berjanji akan menawarkan kualitas bermainnya kepada Manager Timnas tersebut. Dan ia butuh Ulla untuk semangatnya...
"Aku tahu. Tapi aku janji ini yang terakhir deh, ini yang terpenting. Ulla kamu tahu kan aku butuh suppport mu" bujuk Aji lagi
"Halaaah support-support ku segala. Fans-fans mu yang selalu dateng kan ada tuh kok masih kurang ? dasar rakus" ucap ulla terkesan agak jengkel
"Plisssss kali ini aja ya. Ulaa yang baik hati, tidak sombong,  rajin menabung dan yang kusayang, kamu bisa dateng kan ?" rayu Aji lagi-lagi-dan lagi
"Hm. Enggak" Ulla tetap teguh dengan jawabannya
"Yaah hancur hatiku deh kalau kamu tolak tawaranku" sambil bertingkah seolah ia ditolak cinta Aji berucap kalimat itu di depan Ulla
"Dasar otoriter. Ditaktor. Egois. Iyaaa deh aku dateng besok. Huh." Ulla mengunyah jajannya sambil terus mengejek Aji .
"Hahaha naah gitu dong. Tambah manis deh kamu, kunti" tawa Aji sambil memegang tangan Ulla sebelah yang tidak mengambil jajannya
"Raja gombal elu yaa. Week" canda Ulla juga
Mereka pun tertawa hingga bel masuk sekolah berbunyi mengakhiri jam istirahat kedua hari itu.
-UB-
Pukul 16.15 WIB...
"Ayoo cepetan Hand. Kita udah telat nih, ntar Aji bisa ngamuk kalau aku telat" Ulla yang panik dengan cepat memakai sepatu nya sambil mendorong Handini yang masih santai duduk
"Yaah siapa coba yang mandinya lama. Elu kan ? kok aku yang tersalahkan. Aku kan udah siap luar dalem. Pandanglah dirimu...."
"Hehehe iyaa sih. Nah jam ku habis deh batterynya gak bunyi  tadi pagi" alasan Ulla
"Hm kamu mah semuanya dibikin alasan tho ?" ucap Handini
"Hasssh diem ! aku gak konsen nih. Handphone ku mana nih, Hand ?" dengan bingung Ulla merogoh tasnya dan mencari ponselnya
"Ini kan ? bukannya sedari tadi di samping mu?" kata Handini menghentikan kepanikan Ulla
"Naah iya. Thanks. Lho kan liat deh 11 misscall dari Aji. Yaampun" sambat Ulla. Handini hanya memandang temannya dengan pandangan geli.
"Allo...Aji? Iyaa aku masih di rumah...yaah aku minta maaf aku kesiangan...iyaa kamu main aja dulu....sama Handini..iyaa yaa...selalu...hm" Ulla terus berbincang sementara Handini sudah menyiapkan sepeda motornya di depan pintu.
"Right...aku akan berangkat saat ini aku udah siap dan Handini sudah siap dengan sepedanya...iyaaa konsen yak...iyaa...daaah Aji" Klik. Ulla menutup kembali flap handphone-nya dan segera bangkit menyusul Handini.
"Yuuk berangkat, Hand" ajak Ulla. Dan sepeda motor ungu itu pun melaju meninggalkan rumah Ulla.
-UB-
Suasana stadion sangat ramai saat itu dan Ulla bersama Handini berada di Gate C yang berada di samping stadion. Ulla terlihat merogoh tasnya dan berusaha mencari tiketnya untuk masuk dengan Handini. Tidak ada.
Yaallah ke mana tiketnya? Haduuh tadi aku yakin sudah masukin ke tas yaa. Mana sih ? mana ?, batin Ulla
Sementara Handini pun terlihat salah tingkah karena terus diawasi dengan penuh curiga oleh penjaga gate tersebut. "Ulla. Udah ketemu belum tiketnya? Aku risih juga nih diliatin sama tuh orang" ucapnya berbisik sambil terus tersenyum kaku kepada si petugas
"Bentar bentar. Engga ketemu nih" Ulla pun ikut panik. Yaampun tolong jangan sekarang yaa, haduhh  mana sih,, gerutu Ulla
Di saat yang bersamaan coach yang melatih Aji selama ini melihat Ulla dan Handini di gate. Secara spontan beliau memanggil Ulla, "Ulla. Heey saya di sini. Ulla" teriaknya sambil melambaikan tangan untuk mencari perhatian dari Ulla maupun Handini dan segera menghampiri mereka.
"Kok engga langsung masuk. Udah ditunggu sama Aji tuh. Ayoo masuk" tapi Ulla hanya meringis sambil melirik si petugas yang juga masih tertegun. "Kenapa diem ?" ujar coach bingung
"Emm itu...anu tiketnya..anu" kata Ulla gelagapan. Waduh gak lucu juga kalau ngaku tiketnya hilang, batin Ulla
"Tiket ? haduh kamu kan ntar gak bakal di tribun. Kamu temenin Aji aja dulu di ruang ganti" setelah berucap tersebut si coach  mengucapkan beberapa kata kepada petugas dan mereka pun bisa masuk
Saat di ruang ganti, mereka-Ulla dan Handini- tidak menemukan siapa-siapa. Setelah Handini mendengar bunyi peluit dari wasit, ia baru sadar dan segera berkata pada Ulla bahwa tim Aji sudah memulai tanding
-UB-
Babak pertama sudah selesai dan skor 1-0 dengan keunggulan tim Aji. Dengan menit yang diberikan oleh wasit untuk jeda, digunakan Aji menuju ruang ganti. Daaan...
"Ullaaaaa !!" teriak nya
"Woy biasa aja, cong. Aku di sini juga.." belum selesai juga  Ulla berkata karena aji hendak memeluknya
"Eeitss engga boleh yaa. Kamu itu bau kok engga usah peluk-peluk aku" tolak Ulla
Priiiiiiiiiiiit.....
"Yaampun baru aja mau ngomong tapi udah bunyi. Yaudah deh aku balik yaaa"
Ulla hanya memandang punggung Aji yang menjauh. Hingga 2x45 menit pertandingan berakhir skor masih tetap dengan keunggulan tim Aji. Seusai  pertandingan hari itu dengan rasa gembira yang meluap-luap, mereka -Ulla, Handini, Aji, dan teman setim-nya- merayakan kemenangan plus ketambahan karena hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Aji.
Mereka tidak sadar, apa yang akan terjadi setelah itu....
-UB-
Saat akhir pertandingan itulah Manager Timnas melirik permainan Aji dan berujung pada penawaran kontrak pada penjaga gawang ini. Hanya saja tidak semudah itu menandatangani perjanjian kontrak tersebut. Kalau ia memilih ikut Timnas tersebut, mungkin dia bisa senang cita-citanya menjadi seorang yang ada dalam Timnas Indonesia tapi bagaimana dengan sekolah dan Ulla-nya ?
Semula Aji berpikir untuk mendiskusikan ini dengan Ulla dan ibunya. Namun semua gak semulus yang dibayangkan Aji. Keadaan semakin rumit saat coach-nya tidak diberikan izin oleh sekolah saat beliau meminta waktu break untuk Aji. Malah yang ada beliau diberi ceramah oleh bapak Kepala Sekolah. Dan semua tidak berhenti sampai disitu. Ibunya tiba-tiba saja melarangnya untuk mengikuti kegiatan yang menyangkut per-sepak-bola-an dengan alasan karena sudah mendekati waktu ujian.
Mana yang akan ia pilih kemudian ?
"Haduuh bisa mati muda aku kalau terus-terusan gini. Yaampun tuhan" keluh Aji suatu sore sehabis latihannya. Andi sepertinya mendengar keluhan temannya itu.
"Kenape lagi elu, Mib ?" panggilan akrab itu memang sengaja ia tujukan pada teman setimnya yang terlihat suntuk sekali itu.
"Pusing deh aku ya. Semua masalah ini gak selesai dari kemarin, belum satu kelar satunya muncul lagi. Sekarang Ulla udah mulai males ketemu sejak dia tau semua. Dia banyak alasan kalau mau aku ajak ketemuan, ada les lah, kumpul paski lah, mau ada acara keluarga, reunian sama temen-temenya tuh. Hm barusan aja dia bilang mau ada tambahan les" curhat Aji panjang lebar pada Andi
"Kalau boleh aku menengahinya. Kamu udah terlalu egois sama orang sekitarmu. Giliran kamu dapet apa yang kamu pengen mereka kamu 'buang' padahal liat aja sebelumnya. Mereka bahkan yang men-support mu kan ?" Andi menghentikan ceramahnya dan melirik temannya itu. Melihat Aji hanya diam saja ia pun meneruskan kata-kata nya.
"Sekolah mu,  kawan. Semua udah kamu cuekin tho hanya karena pertandinganmu. Aku percaya skill  mu bagus, tapi liat situasi lah. Kamu emang keras kepala dan elu nyadar sendiri kan ?  Kamu mau ikut timnas apa hanya skill itu tadi yang dibutuhin ? Engga, Bim. Prestasi akademik mu gimana, udah merasa cukup sama yang kamu dapet ?" ujar Andi panjang-lebar. Aji hanya menggeleng
"Naah ngerti sendiri dan nyadar kan. Sekolah mu yang penting sekarang. Kita sama-sama kan mau UAN tahun ini jangan sampe kita ulang setahun lagi. Aku mah ogah. Bosen pemandangan sekolah ituuu itu aja..." Andi masih mengoceh sementara Aji merenung. Dia mencerna ulang apa yang dikatakan oleh Andi barusan. Setelah sadar ia menepuk bahu sahabatnya dan berkata,
"Oke aku ngerti sekarang. Dan aku bisa mengambil hikmah dari semuanya. Hehehe" sesudah berkata demikian ia segera pergi meninggalkan Andi yang terbengong-bengong.
Hm? Syukurlah kalau kamu udah ngerti walau kata-kata mu yang terakhir agak abot pisan, batin Andi.
Sementara itu dengan sepedanya, Aji melaju ke rumah Ulla yang beruntung yang membuka pitu adalah Ulla sendiri walau ceweknya itu terkaget saat ia lihat Aji yang bertamu.
"Masuk deh. Ada apa ?" kata Ulla datar. Dan Aji langsung mengajak cewek itu berbincang.
"Hm. Aku tahu  sekarang betapa egoisnya aku. Aku baru aja diceramahin sama Andi dan aku sadar semuaaanya. Kamu tahu Andi kalau ngomong kan? Dikit emang tapi nyelekit amat." cerita Aji. Tapi yang ada cewek di depannya hanya mengheningkan cipta saja.
"Kok diem aja, Ulla ? gak mau kasih aku ide kah ? aku harus milih sekolah atau sepakbola nih asiknya?" tanya Aji tetap berusaha agar Ulla membuka mulutnya.
"Sekolah." jawab Ulla singkat dan masuk rumah kembali membiarkan Aji di luar.
Yaallah semoga langkahku benar. Demi Ulla dan Ibu yang kusayang,batin Aji
-UB-
"Mohon perhatian kepada calon penumpang pesawat tujuan Jakarta dengan nomor penerbangan AB-241097 pada pukul 11.15 diharap untuk segera check in pada Gate 3. Sekali lagi..." suara wanita yang mengumumkan nya terdengar jelas bagi Ulla. Dan berarti kini saatnya...
"Ulla. Aku udah mau berangkat. Hm haduuh gimana yak ngomongnya ... pokoknya aku mau pergi yaa?" itu suara Aji yang berdiri di depan Ulla walau dengan sedikit menunduk.
Aji ternyata menepati janjinya untuk break dan konsen pada sekolah atas permintaan pihak banyak. Karena keputusan itulah akhirnya ia mulai berbaikan dengan Ulla. Kadang ia berpikir apakah Ulla selalu menuntut padanya ? Tidak juga. Sebab ada Ulla-lah ia bisa tenang ada di dunia. Dan ibunya pun mulai bersikap hangat lagi seperti sebelum konflik itu ada.
"Iyaa a..aku denger kok, Bim. Hm. Hati-hati yaa kamu di sana jangan lupa makan yang teratur, sempetin istirahat, jangan terlalu nyibukin diri kalau gak penting, dan..." oceh Ulla karena penyakit  bakat sebagai penceramah keluar.
"Stoop stop. Okee aku akan makan cukup tidur banyak dan akan istirahat dengan teratur. Cukup ?"
"Belum." jawab Ulla
"Yaayay ada apaan lagi ?" ucap Aji
"Ada satu lagi, jangan lupa hubungi aku yaa ?" pinta Ulla
"Iyaaa tentu dong saaayangku" tegas Aji
"Hehe. Gini deh aku ikhlas ngelepas kamu kalau kamu udah janji dan  janji..."
"Adalah yang harus dibayar, kalau engga ntar kamu aku cubit" kata mereka berdua bersamaan. Setelahnya mereka tertawa sebelum waktu memisahkan mereka.
"Ajia ayoo berangkat. Kita harus cepat." Itu coach baik hati yang waktu itu membantu Ulla dan Handini untuk masuk ke dalam stadion. Beliau berucap seperti itu sambil terus tersenyum kepada Ulla dan Aji
"Hm Ulla aku akan selalu kangen kamu deh. Jaga dirimu baik-baik yaa" ucap Aji pada Ulla yang malah menunduk. Melihat Ulla yang diam saja, Aji pun memeluk Ulla seakan setelahnya mereka akan berpisah lama. Hanya sesaat. Aji pun melepaskan pelukannya dan sebelum pergi dia tersenyum pada Ulla.
"Je t'aime. Tunggu aku kembali yaa, Ulla"  ucapnya pada Ulla yang dibalas senyuman oleh Ulla...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar